Gerakan Sosial: NSM vs OSM, Tensi Tinggi vs Rendah

Kapan hari, aku sempat lupa dengan mengartikan New Social Movement (NSM) sebagai gerakan yang identik dengan aksi “non-konfrontatif”.

Contoh NSM misalnya Black Lives Matter, Stop Asian Hate, gerakan lingkungan hidup, termasuk gerakan LGBT (which is I don’t support).

Setelah ingat dan baca-baca lagi, yang betul NSM adalah gerakan yang fokusnya pada isu identitas, budaya, lingkungan.

Yang jelas bukan fokus ke distribusi kekayaan dan kekuasaan kayak demo buruh vs kapitalis & rakyat rezim. Ini fokusnya Old Social Movement.

Perbedaan OSM vs NSM bukan pada “tension” atau level ketegangan. Keduanya sama-sama bisa dijalankan lewat gerakan bertensi rendah atau “non-konfrontatif” misal lewat jalur akademik/pendidikan, nonton bareng, dialog, seminar, talk show, awareness campaign lewat social media, poster, film, mural, lagu, dan karya seni lainnya.

Masing-masing bisa juga dilakukan dengan bertensi tinggi, reaktif-konfrontatif,, misalnya demo massive, mogok kerja (Nah,, aing pernah nih buat confront ke juragan aing dulu), blokade gerbang/jalan, boikot produk.

Bisa juga konfrontatif-simbolis seperti Aksi Cor Kaki Petani Kendeng di depan Istana Negara berapa tahun lalu.

Singkatnya, perbedaan utama OSM dan NSM ada pada fokus isu yang diperjuangkan, bukan pada level ketegangan.

Lalu, soal efektivitas dampak… ya, aku lebih setuju bahwa lewat cara-cara tensi rendah lebih berdampak untuk jangka panjang, lebih bisa dilestarikan dan diwariskan lewat proses transfer of knowledge lintas generasi. Ya, karena fokusnya adalah mengubah pola pikir, perilaku, dan budaya.

Tapi apakah gerakan bertensi rendah lebih aman? Ga juga. Di suatu negara yang mana dikuasai elit-elit anti-kritik dan pengkritik selalu dipandang sebagai musuh: maka di tingkat tensi rendah pun tetap rentan dengan bentuk-bentuk pembungkaman, ancaman, intimidasi, teror. Lha nonton film yang harusnya bertensi santuy lho,, sempat dilarang-larang. Hmm…

Namun dalam konteks sudah benar-benar sulit ditoleransi,, menurutku Gerakan² Konfrontatif-Revolusioner perlu digerakkan. Ya, dengan segala risikonya.

Seringkali aksi revolusioner menjadi SIMBOL atau MOMENTUM BERSEJARAH kaitannya dengan Interaksionisme Simbolis) bahwa ada suatu kompas moral dan ideologi prinsipil yang harus ditegakkan.

Sebagai MOMENTUM SEJARAH makna perjuangan dan kesadaran bersama yang digaungkan akan terus terawat dan lestari hingga generasi berikutnya.

Ya, harus berjalan keduanya. KONFRONTATIF seperti demo masif tetap jalan, NON-KONFRONTATIF lewat jalur-jalur pendidikan, kebudayaan, kesenian juga harus jalan.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *