Jer Basuki dan Kaizen

Siang tadi kubeli ember baru karena yang sebelumnya rusak. Kubeli juga palu dan sekrup untuk pasang rak gantung untuk mempercantik setup meja komputer.

Pulang-pulang kujadi teringat kapan itu aku sharing tentang Kaizen di Story IG, yaitu konsep perbaikan berkelanjutan asal Jepang.

Saat itu juga tersadar, untuk menjalankan Kaizen harus ada uang yang dikeluarkan sebagai pengorbanan atau “sacrifice”.

Saya bisa dapat ember baru, rak gantung baru, palu, dan sekrup itu ya beli. Ada sekian jumlah uang yang saya korbankan.

Ya, kegiatan beli ember baru dan pasang rak gantung baru adalah bagian dari Kazien yang saya lakukan: mempercantik setup desk komputer dengan memasang rak gantung atau pegboard.

Lalu lingkup berpikirku melompat sejenak ke perilaku konsumsi masyarakat berdasarkan status sosial-ekonominya.

Orang bergaji sedikit saat beli smartphone, secara rasional, mungkin lebih mempertimbangkan yang penting bisa WA, foto-foto pun ga harus yang bagus amat, sama main MLBB grafik diratain kiri juga no problemo.

Beda dengan yang bergaji lebih besar, maka ada VALUE Lebih yang dia cari, tidak hanya bisa WA-nan tapi juga didukung sistem security yang kuat – klik APK Undangan ga ngaruh, konektivitas yang kencang, accesibility yang ga meribetkan, main Genshin Impact rata kanan lancar jaya.

Kalau foto-foto dan rekam video ya yang bagus sekalian biar di Tiktok keliharan oke terus viewer naik drastis. Terus viral deh.

Duit udah kekumpul, yang gaji dikit tadi pengen beli mobil. Mobilnya second gapapa yang penting masih bisa jalan, surat lengkap, berkendara sama keluarga ga kepanasan ataupun kehujanan.

Yang gajinya besar, tadinya punya mobil biasa aja. Tapi pas budget cukup, dia cari mobil dengan beberapa VALUE Lebih: hemat energi, interior memberikan rasa nyaman, rangka kuat menawarkan keamanan – tabrakan sama truk cuma lecet dikit, dsb.

Makanya dia cari mobil yang very high-quailty dan pastinya very high-price.

Itulah mengapa, dengan asumsi setiap orang ingin memperbaiki kualitas hidup secara terus-menerus, atau kerennya menerapkan Kaizen, perilaku konsumsinya bisa berbeda-beda tergantung kemampuan ekonomi masing-masing.

Sampai sini saya jadi teringat peribahasa Jawa yang sudah diajarkan sejak dulu SD:

“Jer Basuki Mawa Bea”

Jer = seharusnya

Basuki = kesejahteraan, kebahagiaan

Mawa bea = butuh biaya atau pengorbanan.

(Referensi: ulp.malangkap.go.id)

Scara utuh, Jer Basuki Mawa Bea bisa berarti: kalau menginginkan sesuatu harus kerja keras.

Jadi, kalau ingin melakukan perbaikan terus-menerus, pastikan dulu budget-nya cukup.

Begitulah kira-kira hubungan antara Kaizen yang dari Jepang dan Jer Basuki Mawa Bea yang dari Jawa.

Tapi saya kasih note, tidak semua Kaizen harus mengorbankan uang ya. Mungkin ada yang cuman mengorbankan rasa malas. Yang tadinya jarang olahraga, jadi rutin – minimal jogging di sekitar rumah, stretching, sama pushup.

Lalu buat yang Muslim, yang tadinya jarang Sholat dan Puasa Sunnah, jadi makin rajin.

Sementara saya sudahi dulu. Mau masang rak gantungnya dulu.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *