Acara TV Favorit dan Lamaran Kerja
Aku harus mengisi data diri untuk memenuhi syarat lamaran kerja di perusahaan sebut saja PT A sekira dua tahun lalu. Ada poin isian menanyakan acara TV favorit. Aku isi acara TV yang sering kutonton 2021, ya walau seringnya kutonton di Youtube: “Lapor Pak”.
Mengapa tak memberi kesan wah di hadapan rekruter dengan mengisi acara-acara berbobot seperti Mata Najwa, Kick Andy, ILC, atau program-program berita?
Pertama, aku waktu melamar di PT A dengan sikap Nothing to Lose. Diterima ya udah, ga diterima ya udah juga. Jadi untuk apa “berpura-pura” agar terkesan wah. Mengisi isian dengan sejujur-jujurnya adalah pilihan utama. Jadi, kutulislah “Lapor Pak”.
Kedua, isian tentang acara TV favorit kurasa agak kurang relevan dengan bidang pekerjaan yang aku lamar. Diisi atau tidak, diisi Mata Najwa atau Spongebob, rasanya tak begitu memengaruhi penilaian. Bagaimanapun yang harusnya jadi pertimbangan rekruter adalah pengalaman dan skill. Dua hal itulah yang memang aku tonjolkan selama rekrutmen.
Hasilnya diterima juga di PT A, syukurlah.
Selama bekerja di PT A, aku beberapa kali melakukan interview kandidat. Dari sekian data kandidat yang aku terima, kebanyakan kandidat mengisi “Mata Najwa” sebagai acara TV favorit. Keren juga mereka. Sementara itu, tontonanku receh hahahihi kayak Lapor Pak. Kok ga ada yang satu selera ya, yang sama-sama suka Lapor Pak? Atau, acara lainnya deh: Preman Pensiun? Hehehe.
“Seringlah Nonton Komedi”
Begitulah kurang-lebih saran seorang kawan. Entah, mungkin baginya aku tampak selalu serius.
Tak semata-mata sebagai hiburan untuk menyelingi “keseriusan hidup”, acara komedi seperti Lapor Pak bisa menjadi insight dan referensiku pribadi tentang bagaimana menyenangkan orang di momen-momen tertentu.
Dalam dunia profesional, kurasa kemampuan melempar joke atau humor juga cukup penting untuk menambah keakraban ke sesama rekan kerja, mitra bisnis, maupun client.
Lapor Pak, Medium Hiburan dan Kritik
Lapor Pak sendiri adalah komedi sketsa yang menarik. Bertema kepolisian dan kadang menyindir kepolisian yang ada sekarang. Buatku, komedi berisi kritik sosial memang menarik.
Sebetulnya kepolisian itu tidak terbatas pada instansi kepolisian milik negara, dalam konteks di negara kita ya Polri.
Lupa-lupa ingat, sepertinya pernah saya share di Story Instagram bahwa seiring perkembangan masyarakat yang semakin organik atau terspesialisasi, kemudian dibutuhkan lembaga policing-authority, sebuah lembaga atau pranata untuk menjaga keamanan dan ketertiban, termasuk menangkap pelaku kejahatan.
Sebagai lembaga, policing-authority lebih konkret hadir pada organisasi kepolisian yang dikelola negara, yang mana anggota-anggotanya digaji dengan anggaran negara. Tapi mungkinkah policing-authority dipegang swasta atau perusahaan? Nyatanya di negara-negara lain bisa saja, dengan batas-batas tertentu, bahkan dengan potensi-potensi konflik tertentu.
Di Indonesia tampaknya belum ada polisi swasta. Adapun pihak swasta yang menangani sebagian tugas policing-authority yaitu penyedia-penyedia jasa security dan tentu memiliki wewenang yang terbatas, misal menjaga properti privat. Para tenaga security juga dibekali kemampuan bela diri dan senjata yang sederhana.
Kalau penyelidikan yang dilakukan detektif swasta, setahuku juga terbatas. Lupa baca di mana, salah satu detektif swasta di Indonesia justru lebih banyak menangani investigasi kasus perselingkuhan.
Kalo soal Kepolisian Lapor Pak ini saya ga tahu. Mereka ini seolah memposisikan sebagai apa, polisi aparat pemerintah ataukah polisi swasta. Terserah lah yang penting menghibur. Hehehe
Lompat ke Warkop, ada juga film mereka tentang polisi swasta. Judulnya CHIPS, kependekan dari Cara Hebat Ikut Penanggulangan masalah Sosial.
Salam “Jangkrik Bos” dipopulerkan dari film ini.